
Masa transisi ini bukanlah
masa yang mudah bagi anak, karena terdapat berbagai perbedaan tuntutan
antara di PAUD dengan SD. Peraturan dan kebijakan di SD berbeda dengan
PAUD, sehingga anak dituntut untuk dapat melakukan berbagai penyesuaian
secara cepat dan tepat yang kemudian memunculkan tekanan bagi anak.
Lingkungan belajar yang mendukung penguatan transisi PAUD-SD adalah
lingkungan belajar yang mampu membangun jembatan yang layak agar anak
didik dapat aman dan nyaman berjalan hingga mencapai kesiapannya
bersekolah.
Untuk dapat turut membangun
jembatan, kita perlu satu persepsi dan satu visi mengenai apa yang
dimaksud dengan praktik pembelajaran yang menguatkan transisi PAUD-SD.
Untuk mencapai hal tersebut, kita telah menganalisa tiga kasus, yang
harapannya akan semakin menguatkan pemahaman kita bersama.
Ketika
anak memasuki ruangan baru yang masih gelap dan belum diketahuinya,
Bapak/Ibu guru di sekolah perlu memberikan cahaya penerangan yang dapat
membantu anak mengenali lingkungan belajarnya.
Penguatan
Transisi PAUD-SD ini pun tidak hanya didukung dengan praktik
pembelajaran di SD dan PAUD, tetapi juga kerjasama antar pihak yang
terlibat dalam penguatan Transisi PAUD-SD termasuk pihak orang tua,
serta masa perkenalan yang menjadi ‘gerbang utama jembatan PAUD-SD’ yang
sedang kita bangun bersama.
5
kegiatan wajib untuk emastikan setiap peserta didik mendapatkan proses
adaptasi yang diperlukan agar dapat berkegiatan dengan nyaman dan aman
antara lain :
- Pengenalan potensi diri siswa baru
- Membantu siswa baru beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan sekitarnya, antara lain terhadap aspek keamanan, fasilitas umum, dan sarana prasarana sekolah
- Menumbuhkan motivasi, semangat, dan cara belajar efektif sebagai siswa baru
- Mengembangkan interaksi positif antar siswa dan warga sekolah lainnya
- Menumbuhkan perilaku positif antara lain kejujuran, kemandirian, sikap saling menghargai, menghormati keanekaragaman dan persatuan, kedisplinan, hidup bersih dan sehat untuk mewujudkan siswa yang memiliki nilai integritas, etos kerja, dan semangat gotong royong
Masa perkenalan anak (dan orang tua) dengan lingkungan belajar
Dalam
konteks Transisi PAUD-SD, pengenalan potensi siswa dapat dilanjutkan
setelah MPLS dengan cara menerapkan rangkaian kegiatan pembelajaran yang
dapat memotret capaian anak. Dalam kegiatan ini, guru memberikan
kesempatan pada setiap anak dapat menyampaikan identitas dirinya: nama,
alamat, hobi, anggota keluarga, kebiasaan yang dilakukan dirumah atau
hal lain yang ingin anak sampaikan.
Masa perkenalan anak (dan orang tua) dengan lingkungan belajar
Dalam
konteks Transisi PAUD-SD, hal ini dapat dilakukan dengan menyusun
kegiatan masa perkenalan anak dengan sekolah, dengan melibatkan orang
tua. Sebagai pintu pertama masa sekolah, disarankan agar pada MPLS
satuan dapat mengundang orang tua untuk mengantar anak ke sekolah
setidaknya pada hari pertama. Selain agarhari pertama sekolah menjadi
tempat perkenalan orang tua sebagai mitra belajar dengan guru kelas,
anak pun mendapatkan penguatan dari orang tua untuk memasuki lingkungan
baru sehingga tercipta rasa aman pada anak.
Berikut ini pembahasan mengenai Modul 2 : Bagaimana membangun lingkungan belajar yang mendukung transisi PAUD-SD?
A. Indikator Ketercapaian Transisi PAUD-SD
Salah
satu tahapan kegiatan yang dapat membantu anak menunjukkan respon
positif terhadap kegiatan pembelajaran di kelas adalah ...
Jawaban : Anak diajarkan menggunakan kata tolong, maaf, dan terima kasih melalui melalui kegiatan menggambar kelompok
Guru
menjelaskan cara, manfaat, dan mengajak anak berbaris untuk mencuci
tangan bergantian di wastafel sekolah adalah salah satu cara agar anak…
Jawaban : Mengenali lingkungan sekolahnya
B. Dua Minggu Awal Sekolah : Sekolah Mengenal Anak
Salah satu prinsip Penerapan Asesmen Awal sebagai upaya satuan pendidikan mengenal peserta didik adalah ...
Jawaban : Berpusat pada anak dan menyenangkan
Berikut bukan merupakan langkah dalam menyusun penerapan asesmen awal di dua minggu pertama di awal tahun ajaran baru...
2. Post testJawaban : Menetapkan kompetensi anak tanpa melakukan observasi atau memberikan kesempatan anak untuk unjuk kinerja
| 1. | Hari
merupakan murid yang sering menolak pada saat masuk ke dalam kelas.
Kejadian itu sejak Hari mendapat tugas dari Bu Guru untuk membaca dan
Hari merasa kesulitan membaca lancar. Tati merupakan murid periang, namun setelah memperoleh tugas berhitung dengan yang ditampilkan dalam bentuk permainan kartu tebak angka, dia hanya bisa 4 dari 10 soal yang ditanyakan, sejak saat itu Tati mempunyai rasa sedih dan tidak bersemangat untuk pergi ke sekolah. Berkaitan dengan deskripsi tersebut juga pada aspek kemampuan fondasi maka aspek yang perlu dikembangkan terhadap kasus Hari | |
| A. | Pemaknaan belajar positif | |
| B. | Keterampilan motorik | |
| C. | Kematangan emosi | |
| D. | Keterampilan bidang sosial | |
| Pembahasan : Jawaban : A | ||
| 2. | Inilah contoh kegiatan yang efektif dilakukan pada hari awal bersekolah untuk mengenali potensi anak didik ... | |
| A. | Guru memberi kesempatan pada anak didik berkeliling sekolah dan berkenalan dengan warga sekolah | |
| B. | Guru memberi kebebasan kepada orang tua untuk mengantarkan anak didik ke sekolah | |
| C. | Murid menempelkan nama mereka dan diharapkan saling berkenalan | |
| D. | Guru memberikan kesempatan anak didik agar bisa menyampaikan identitas dirinya seperti nama, alamat, hobi, anggota keluarga, kebiasaan yang dikerjakan di rumah serta sesuatu yang ingin disampaikan | |
| Pembahasan : Jawaban : D | ||
| 3. | TSetelah
3 hari pertama memberikan waktu kepada anak didik untuk berkenalan
dengan lingkungan belajar, Bu Guru Dewi menjelaskan mulai hari ke 4
sampai ke 10 akan dilakukan asesmen awal. Tentang hasilnya akan
dipergunakan sebagai basis perancangan kegiatan pembelajaran untuk
selanjutnya. Di bawah ini merupakan rancangan kegiatan bu Dewi
| |
| A. | Sederhana, realistis dan tidak menjadi tambahan kegiatan bu Dewi | |
| B. | Mengakomodir kemampuan fondasi | |
| C. | Menyenangkan karena tidak memakai testing | |
| D. | Bermakna karena dari hasil asesmen yang dilakukan untuk acuan pengembangan kemampuan fondasi | |
| Pembahasan : Jawaban : A | ||
| 4. | Bu
Dewi yaitu seorang guru SD Insan Mulia. Bu Dewi telah merancang
kegiatan di sekolah tentang masa perkenalan di antara anak didik. Pada
mulanya dengan perkenalan pada alat belajar, mengajak anak didik
mengelilingi seluruh area sekolah, mengenalkan anak didik dengan warga
sekolah dan pembiasaan pada proses pembelajarannya. Selanjutnya tujuan Bu Dewi melakukan kegiatan tersebut yaitu ... | |
| A. | Agar mengenal potensi anak didik | |
| B. | Menumbuhkan motivasi belajar, interaksi anak didik | |
| C. | Mengembangkan interaksi anak didik dan warga sekolah | |
| D. | Membantu anak didik yang baru untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah juga sekitarnya | |
| Pembahasan : Jawaban : D | ||
Demikian
pembahasan mengenai Modul 2 : Bagaimana membangun lingkungan belajar
yang mendukung transisi PAUD-SD? platform Merdeka Mengajar. Semoga
bermanfaat.
